Senin, 17 April 2017

Tingkatkan Budaya Literasi INDONESIA




         Saat Kita naik kendaraan umum atau menunggu penerbangan di bandara, coba perhatikan orang-orang di sekeliling Kita, apa yang mereka lakukan? Coba amati juga apa yang anak-anak kecil, baik itu anak maupun keponakan Kita, lakukan di tengah acara keluarga, saat mereka sudah bosan berlarian ke sana kemari? Sepertinya, mayoritas dari Anda akan memiliki jawaban yang sama: mereka sibuk dengan gadget-nya. Kondisi tersebut mungkin merupakan cerminan dari ketidakakraban orang Indonesia dengan buku. Tak heran jika data UNESCO tahun 2012 menunjukkan bahwa indeks tingkat membaca orang Indonesia hanyalah 0,001. Itu artinya, dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 yang punya minat baca. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 88,1 juta pada 2014. Waduh!


      Dalam hal ini, jangan bandingkan Indonesia dengan negara-negara maju, seperti Amerika, Australia, maupun Inggris. Di antara negara-negara ASEAN saja, Indonesia menempati urutan ketiga terbawah bersama Kamboja dan Laos. Bagaimana tidak, penelitian UNESCO mengenai minat baca pada tahun 2014 lagi-lagi menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun.
           
Pemeringkatan terbaru, menurut data World's Most Literate Nations, yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat literasi kita berada di posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti! Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu, perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, output sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer.  Fakta tersebut didukung juga oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17,66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91,67%!
           
Ibnu Wahyudi, pengamat sastra dan pengajar penulisan kreatif dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, mengatakan, rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini dikarenakan minimnya akses terhadap buku. “Tidak semua sekolah memiliki perpustakaan yang layak. Demikian pula perpustakaan daerahnya,” papar pria yang akrab disapa Iben ini.



Meski begitu, Iben mengkritisi bahwa penyebab sesungguhnya bukanlah ketidakmampuan ekonomi, namun sebagian besar masyarakat kita tidak menjadikan membeli buku sebagai prioritas belanja keluarga maupun pribadi. “Karena, rendahnya ‘daya’ beli buku ini juga terjadi di kota-kota besar, yang mayoritas masyarakatnya adalah kelas menengah,” ujar sastrawan yang buku puisinya, Masih Bersama Musim, masuk dalam 10 besar penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2005 ini.



Faktor lain yaitu rendahnya peran orang tua untuk membudayakan minat baca anak dari sejak kecil. Karena dengan membudayakan gemar membaca untuk anak sejak kecil akan membuka pemikiran anak untuk terbiasa pula dengan membaca. Dengan membaca pula, anak akan membuka pola pikir agar lebih leluasa dan kreatif dalam berekspresi. Untuk itu mari kita ajak orang tu untuk menciptakan suasana gemar membaca dan membiasakan budaya membaca.




Mari kita dukung dan sukseskan Gerakan Gemar Membaca Indoonesia sejak dini untuk Generasi Emas Indonesia yang lebih baik lagi!!






Kamis, 16 Februari 2017

SERTIJAB FKPO


Serah terima jabatan FKPO Kabupaten Sleman masa bakti 2017/2018



Sleman, Rabu 15 Februari 2017 bertempat di Youthcentre Mlati Sleman Yogyakarta, Forum Komunikasi Pengurus OSIS Kabupaten Sleman mengadakan kegiatan Pelantikan dan Serah Terima Jabatan untuk angkatan yang ke-4. Pelantikan dan Serah Terima Jabatan ini diikuti oleh seluruh Calon anggota FKPO masa bakti 2017/2018 dan dihadiri oleh Kepala Balai Dikmen Kabupaten Sleman.

Dengan diawali dengan pembahasan Kepengurusan, sampai acara Pelantikan dan Serah Terima Jabatan yang ditandai dengan penyematan pin dari angkatan 3 ke angkatan 4, sampai pembinaan administrasi dan pembekalan, hari itu juga sekaligus membahas Program Kerja FKPO untuk masa bakti 2017/2018 baik pusat maupun tiap korwil.



 Penyematan pin kepada Ketua Umum dan Ketua 1 FKPO masa bakti 2017/2018 oleh Bapak Indrianto (Kepala Balai Dikmen Kabupaten Sleman)




Penyematan Pin dari pengurus angkatan 3 ke pengurus angkatan 4 FKPO


Pengenalan Struktur FKPO masa bakti 2017/2018





Dengan terlaksananya kegiatan tersebut, semoga menjadi awal yang baik dan pembekalan anggota FKPO masa bakti 2017/2018. Semoga dapat mengemban tugas dengan baik :) Sukses, Salam FKPO!!

Rabu, 08 Februari 2017

JAMBORE PELAJAR SLEMAN 2016 #1



Halo-halo, pada tahun 2016 FKPO sleman masa bakti 2016/2017 mengadakan kegiatan Jambore pelajar Kabupaten Sleman yang diikuti perwakilan pelajar SMA dan SMK se-Kabupaten Sleman. Mereka mendapatkan pelatihan-pelatihan, materi, dan berbagai kegiatan yang menarik lainnya.
Dengan Dibuka dengan kegiatan pembukaan, mereka mendapat berbagai ilmu dari banyak narasumber yang menarik, yaitu dari Dikpora Sleman, Bung Sila, Bunda Cinta, dan Kak Zainal.
Tak hanya itu, tentunya mereka disini belajar bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik dan membagi prioritas yang bijak. Disinilah seorang calon-calon pemimpin Indonesia akan dilatih dengan baik, tentunya dengan usaha dan kemauan masing-masing dari peserta.


Dengan tetap tidak menghilangkan materi-materi kepemimpinan, panitia juga melaksanakan kegiatan outbond maupun games yang sangat menarik dan sederhana.

See you at Jambore Pelajar Sleman 2017 #2

Taukah kamu Lambang Tutwuri Handayani??




Kebanyakan orang menyebutnyaTutwuri Handayani yang sebenarnya adalah Logo atau Lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0398/M/1977 tanggal 6 September 1977 dengan uraian arti lambang sebagai berikut:

(1)   BIDANG SEGI LIMA (Biru Muda)
Menggambarkan alam kehidupan Pancasila.

(2)   SEMBOYAN TUT WURI HANDAYANI
Digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan system pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

(3)   BELENCONG MENYALA BERMOTIF GARUDA
Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup.
Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: “Satu kata dengan perbuatan Pancasilais”

(4)   BUKU
Buku merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

(5)   WARNA
Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih.
Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup pancasila).

Makna Logo Pendidikan Nasional
Arti dari semboyan ini adalah: tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik).

Tut Wuri Handayani adalah penggalan dari kalimat panjang yang terkenal dari Ki Hajar Dewantoro, pendiri Taman Siswa, bapak pendidikan kita, yang baris terakhirnya juga menjadi bagian dari logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia : Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Maknanya lebih kurang : di depan memberi teladan, ditengah membimbing (memotivasi, memberi semangat, menciptakan situasi kondusif) dan dibelakang mendorong (dukungan moral).

Kalimat itu menjadi rujukan saat bicara tentang konsep kepemimpinan yang baik, memberi tuntunan bagaimana seharusnya seorang pemimpin atau seorang guru (yang digugu dan ditiru) bertindak.

Ketiga kalimat itu berulang-ulang ditulis, dibahas, diingat kemudian dilupakan. As usual, idelisnya kita sampai di mulut saja. Begitu turun ke perut yang serba idealis tadi akan menguap ke atas dan masuk kembali ke kepala dalam sebentuk angan-angan tentang suatu hal yang ideal. Keluar lagi lewat mulut, begitu turun ke perut menguap lagi, dan seterusnya, dan seterusnya. (Do you catch me?)

Kalimat itu begitu sering diucapkan, dibaca, dibahas sampai si pendengar atau si pembaca lupa untuk memahami, belum sampai taraf menghayati, apalagi mengamalkan. Untuk sampai ke tahap paham saja sulit. Sebab umumnya begitu tahu, sudah puas. Berhenti, dan mengira dirinya sudah hebat.

Ing Ngarso Sun Tuladha
Di depan memberi teladan. Duh susahnya menjadi teladan. Menjadi teladan itu artinya si pemberi teladan harus senantiasa sadar, aware terhadap pikiran, perkataan dan tindakannya. Melakukan segala sesuatu secara benar. Memberi contoh yang baik. Itu sulit. Alamiahnya manusia itu selalu mondar-mandir di dua kutub. Mana bisa menjadi baik terus. Seharusnya juga tidak buruk terus.
Menyeimbangkan dua kutub itu adalah perjuangan seumur hidup. Lalu kalau untuk seimbang saja harus berjuang seumur hidup, sewaktu-waktu bisa tergelincir jatuh, bagaimana memberi teladan? Ya dengan menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk tetap seimbang itu tadi. Saat kita senantiasa sadar dan berusaha menyeimbangkan diri, tidak perlu repot-repot memikirkan apa teladan yang baik, sebenarnya kita sudah memberi teladan.

Ing Madya Mangun Karsa
Di tengah memotivasi, menggugah semangat, kemauan dan niat. Ini juga sulit. Bagaimana membuat situasi yang kondusif untuk orang lain agar bisa berkembang, menggugah semangat untuk terus meraih kemajuan itu sulit. Apalagi kita dihadapkan pada masalah internal diri kita sendiri dan masalah eksternal dengan lingkungan kita. Tidak bisa? Oh bisa. Yang diperlukan hanya niat baik untuk melakukannya. Asal paham lakonnya hidup, baris yang inipun pasti akan dilakukan orang-orang dengan senang hati. (Bagaimana lakonnya hidup? berdiamlah --maka kau akan tahu!).

Tut Wuri Handayani
Di belakang memberi dorongan moral. Nah ini dia. Katanya seorang pemimpin atau guru atau orang yang lebih pandai, lebih tahu-- saat membimbing orang lainnya harus bersikap sebagai among (ini bahasa Jawa, bukan Inggris!). Pengemong. Pengasuh. Jadi yang menjadi fokus adalah yang diasuh. Karena itu saat yang di asuh merasa lemah, merasa tidak mampu, pengemong akan maju memberi dorongan semangat, dukungan moral. Dengan kata-kata, dengan sikap perbuatan. Dengan hati yang penuh cinta. (iya penuh cinta, karena tanpa yang satu ini, tidak akan pernah bisa ada tindakan tut wuri handayani).

Jadi kesimpulannya apa yang coba disampaikan KH Dewantoro itu adalah : sadarlah pada pikiran, perkataan dan tindakan kita, pahami hidup dan kembangkan cinta kasih. Inilah pemahaman saya tentang Ing Ngarsa Sun tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Nah.. sudah tau kan apa sebenarnya lambang Tutwuri Handayani, Jangan lupa diamalkan ya.. Semoga bermanfaat :)

SELAMAT DATANG DI FKPO SLEMAN :)


FORUM KOMUNIKASI PENGURUS OSIS KABUPATEN SLEMAN

Selamat datang di blog kami !!
Kami dari Forum Komunikasi Pengurus OSIS Kabupaten Sleman merupakan suatu forum dimana kami disatukan melalui forum perwakilan pengurus OSIS SMA/SMK di Kabupaten Sleman. Sejarah singkat saja, dari angkatan 1 - 3, kami dibentuk dan dinaungi oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman. Namun mulai angkatan ke-4 atau pada tahun 2017 dan seterusnya, Forum Komunikasi Pengurus OSIS Kabupaten Sleman berada pada naungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam kegiatannya kami bergerak fokus dalam bidang pendidika atas dasar komunikasi antar pengurus OSIS Kabupaten Sleman, namun dengan berjalannya waktu tentunya kami akan terus berkembang dan melaksanakan program-program kerja yang semakin beragam tentunya di bidang sosial maupun masyarakat, dan kewirausahaan. Dengan harapan forum ini tidak hanya berefek terhadap pelajar, namun juga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya Kabupaten Sleman.

Melalui Blog ini, kami akan memberikan informasi-informasi menarik tentang kegiatan FKPO Sleman, info, tips, dan artikel-artikel menarik lainnya. Kami juga menerima kritik dan saran dari para pembaca melalui email fkpo sleman di forumosissleman@gmail.com 

Selamat membaca, semoga bermanfaat
Stay tune guys :) Salam Pelajar berkarakter, berprestasi, dan berkarya untuk bangsa!!